Langsung ke konten utama

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan?


Pernahkah kamu bertanya-tanya, apakah kejadian yang kamu alami merupakan bagian dari kekerasan oleh pasangan atau bukan? Yuk, kita sama-sama belajar tentang kekerasan oleh pasangan di artikel ini.

Kekerasan oleh pasangan adalah pola perilaku di mana salah satu pasangan berusaha mengontrol, mengatur, menyebabkan rasa takut, atau bahkan membuat ketergantungan  pasangannya di dalam suatu relasi romantis. Tidak perlu luka fisik untuk menjadi korban kekerasan oleh pasangan (intimate partner violence)

1. HelpNona, apa itu kekerasan oleh pasangan?

Lavoie et al. (2000)
“…any behavior that is prejudicial to the partner's development or health by compromising his or her physical, psychological, or sexual integrity”.2

Wekerle & Wolfe, 1999
“…control or dominate another person physically, sexually, or psychologically, causing some level of harm.”3

Sederhananya, kekerasan oleh pasangan adalah tindakan mengontrol pasangan di antaranya secara fisik, psikis, dan seksual hingga menimbulkan dampak mengganggu pada korban. Bentuk kekerasan ini tidak hanya terjadi di ranah kehidupan kita sehari-hari, namun bisa juga terjadi di ranah online. Misalnya saya kekerasan dalam bentuk tindakan revenge porn.

2. Lalu dampak apa aja sih yang dialami korban kekerasan oleh pasangan?
Menurut Tara L. Cornelius & Nicole Resseguie dalam tulisannya yang berjudul ‘Primary and secondary prevention programs for dating violence: A review of the literature’ dari Grand Valley State University, dampak kekerasan oleh pasangan adalah:

  1. Korban berkecenderungan memiliki self-esteem yang rendah, merasa dirinya kurang berharga, kerap menyalahkan diri sendiri, mudah marah hingga kerap merasa khawatir.
  2. Korban yang mengalami kekerasan dalam pacaran juga bisa menunjukan ketidakefektifan berkomunikasi dan sulit menyelesaikan permasalahan yang nanti dialaminya.
  3. Bisa pula memiliki persepsi bahwa kekerasan bisa menjadi opsi untuk menyelesaikan suatu masalah.

Lebih lanjut, interaksi kekerasan juga bisa menjadi awal dari kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, lho!

Ada pula dampak lain yang sekiranya bisa dialami jika kita mengalami kekerasan oleh pasangan, yaitu:

Dampak Fisik
Akibat dari bagian tubuh yang terkena sasaran tindak kekerasan fisik, yang dapat merupakan kondisi permanen (cacat), mau pun tidak permanen (luka, lebam).

Dampak Psikologis
Akibat yang ada pada kondisi pskologis korban. Seperti merasa tidak berharga, takut atau malu.

Dampak Seksual/Reproduksi
Akibat dari tindak kekerasan pada fungsi atau kerusakan organ seksual/reproduksi, baik pada bagian dalam dan atau luar.

Dampak Ekonomi
Akibat dari tindak kekerasan pada kondisi ekonomi korban. Misalnya, hilangnya kesempatan memiliki pekerjaan sebagai mata pencaharian.

Dampak Sosial
Akibat dari tindak kekerasan yang menyebabkan terganggunya posisi sosial, relasi sosial, sampai modalitas sosial korban.

3. Apa saja macam-macam kekerasan oleh pasangan itu, HelpNona?
Sebenarnya, ada banyak bentuk pengklasifikasian kekerasan oleh pasangan di berbagai literatur. Sebagai contoh, diperkirakan 20–37% pasangan yang berpacaran pun sesungguhnya mengalami kekerasan dalam hubungannya. HelpNona akan menjelaskan beberapa bentuk kekerasan oleh pasangan di antaranya, ya ..

Fisik
Memukul, menendang, mendorong, menonjok, menampar, mencekik, melempar benda, mengancam dengan benda tajam, hingga mengabaikan kebutuhan kesehatan saat kamu sakit atau terluka.

Emotional / Psikis
Constantly mengkritik, panggilan memalukan, mengejek, membentak, membuat berpikir bahwa kita lah yang selalu salah, membuat berbagai peraturan yang mengekang, sampai memberi hukuman jika tidak menurut. Termasuk pula bentuk ancaman dan intimidasi seperti ancaman akan melukai kita dan orang terdekat, atau justru ancaman akan melukai dirinya sendiri. Juga menempatkan kita pada rasa takut dengan tatapan dan gestur, teriakan sampai menghancurkan benda sekitar.

Bentuk kekerasan psikis juga termasuk ketika pasangan memperlakukan kita seperti subordinat atau bawahan, selalu mengambil keputusan besar pada hidupmu atau pada hubungan kalian. Jangan lupa bahwa mengontrol apa yang kamu lakukan, siapa yang kamu temui, kemana kamu pergi, memonitor ponsel, laptop, hingga social media adalah bentuk kekerasan pula.

Seksual
Pemaksaan untuk berhubungan seksual, memaksa melakukan hal yang berbau seksual seperti berfoto seksi untuk kepuasannya pribadi, sampai melakukan pelecehan seksual.

Ekonomi
Menahan uang hingga ATM, melarang  bekerja atau menuntut ilmu, terlibat terlalu dalam pilihan-pilihan pada pekerjaan, sampai memaksa membelikan semua yang pasanganmu  mau adalah contoh kekerasan ekonomi.

4. Mungkinkah di waktu yang bersamaan saya mengalami beberapa bentuk kekerasan dalam hubungan saya?
Sangat mungkin! Faktanya, kekerasan yang dialami korban kerap berlapis. Misalnya saja, korban yang mengalami kekerasan fisik kemungkinan besar juga mengalami kekerasan psikis oleh pasangannya.

5. Bagaimana gambaran fakta kekerasan oleh pasangan, khususnya kekerasan dalam pacaran di Indonesia kini?
Di tahun 2015, LBH APIK menangani 23 kasus kekerasan dalam pacaran. 22 % mengalami kekerasan seksual, 35 % ingkar janji dinikahi, 26 % kekerasan fisik, dan 17 % pemanfaatan ekonomi oleh pelaku.

Menurut narasumber dari LBH APIK Jakarta, kendala kasus-kasus kekerasan dalam pacaran untuk diproses di ranah hukum adalah kurangnya bukti. Oleh sebab itu, banyak kasus kekerasan dalam pacaran yang kemudian diproses secara mediasi, bukannya melalui jalur hukum.

Faktanya, kekerasan dalam pacaran memang tidak serta merta mudah diproses di mata hukum Indonesia. Beda cerita jika korban masih masuk dalam usia anak seperti dalam Undang-Undang RI No 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Pelakunya yang mungkin sudah dewasa bisa dikenai pasal dalam Undang-Undang Perlindungan Anak tersebut. Tentu akan baik sekali jika ke depannya ada terobosan hukum untuk perlindungan bagi relasi personal di luar rumah tangga.

6. Bagaimana ya cara kita mencegah terjadinya kekerasan oleh pasangan?
The ultimate goal is to stop dating violence before it starts. Sebaiknya jangan memutuskan berkomitmen dengan pasangan yang sekiranya tidak menghargai kita. Makanya, memahami apa itu healthy relationships sangatlah penting. Apalagi masa muda adalah masanya kamu belajar membentuk positive relationships bersama orang terdekat. Ini adalah waktu yang ideal untuk ‘promote healthy relationships’ pada sesama dan mencegah pola kekerasan dalam relasi romantis terus terjadi, apalagi sampai direplikasi hingga jenjang pernikahan. Nah, inisiatif sosial HelpNona pun ada untuk mendukung kebutuhan tersebut.



Referensi:
1. Adolescents Working for Awesome Relationship Experiences Documents , http://www.awarenow.org/www/docs/102/
2. Lavoie, F., Robitaille, L., & Hebert, M. (2000). Teen dating relationships and aggression: An exploratory study. Violence Against Women
3. Wekerle, C., & Wolfe, D. A. (1999). Dating violence in mid-adolescence: Theory, significance, and emerging prevention initiatives. Clinical Psychology Review
Komnas Perempuan (Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan). Kekerasan 
Terhadap Perempuan Sebagai Pelanggaran HAM : Glosari. Jakarta : Komnas Perempuan dan NZAID. 2006
http://loveisrespect.org
4 Carlson, B. E. (1987). Dating violence: A research review and comparison with spousal abuse. Social Casework: The Journal of Contemporary Social Work


Source Partner:
Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta
Special thanks to Ibu Ratna Batara Munti & Ibu Tari
http://www.lbh-apik.or.id/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu?



HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang.
Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diriMenghargai kebutuhan aktualisasi di…

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

.
Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban.



Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang.
Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya adalah memaksa…

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan?

Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik

2. Kekerasan Psikis

3. Kekerasan Ekonomi

4. Kekerasan Seksual

Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho!

Tahu Apa Itu Revenge Porn?






Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan

Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis


<