Langsung ke konten utama

Berada Dalam Hubungan yang Tidak Sehat




Banyak orang yang kesulitan untuk keluar dari suatu hubungan, meski hubungannya penuh dengan kekerasan sekali pun. Also, violent relationships often go in cycles. Kita akan dibuai dengan permohonan maaf pasangan sebelum ia  mulai melakukan hal yang sama lagi. Menurut Jennifer Uttech dalam jurnalnya yang bertajuk "An Analysis of Violence in Teen Dating Relationships"  , ada 3 faktor utama mengapa seseorang  bertahan dalam hubungan yang gak sehat. Meski penjabaran ini lebih fokus pada remaja dan tidak terpaku pada gender tertentu, tapi masih cukup relevan kok untuk ketahui. Yuk, dicek!

Internal Factors

“You think you really love that person, and you think you can change that person, and you end up getting abused, but you stay there because you think it’s love.” [1]

Ada banyak faktor dari dalam diri seseorang yang membuat ia tetap bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan. Misalnya saja perasaan cinta yang begitu besar sampai gak mau membuka mata. Termasuk juga perasaan familiar pada hubungan yang telah sekian lama dibangun, sehingga sulit melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang ada bersamanya.

Pernah dengar kalimat it is better to be with someone (walau pun suka kasar) than to be with no one? Ternyata hal tersebut juga merupakan bagian dari faktor internal yang membuat kita kerap terperangkap dalam hubungan yang gak sehat, loh. Belum lagi kalau di masa kecil seseorang punya attachment issues yang membuat ia takut gagal dalam sebuah hubungan. Simply, karena sejak kecil ia selalu melihat hubungan yang retak di matanya. Maka bertahan jadi satu-satunya alasan untuk merasa ‘berhasil’. Duh, sedih juga ya, kalau sudah begitu?

Terakhir, banyak juga seseorang yang merasa dorongan untuk menyelamatkan pasangannya. Dorongan untuk menyelamatkan pasangan ini juga membuat kita mencari pembenaran akan kekerasan yang ia lakukan pada diri kita. Pernahkah kita merasa apabila kita berlaku cukup baik dan sabar, maka suatu hari pasangan kita akan berubah jadi lebih baik? Faktanya, abuse is not your fault. Maka mati-matian jadi orang yang sabar juga gak akan membuat pasanganmu berubah jadi baik hati.


[1] Uttech, Jennifer, "An Analysis of Violence in Teen Dating Relationships".Master of Social Work Clinical Research Papers. 2012


Perpetrator Factors
Jangan lupakan faktor pelaku yang melakukan kekerasan pula. Kebanyakan dari mereka kerap menanamkan paham pada pasangannya bahwa gak akan ada orang lain yang mau sama seseorang kecuali mereka. Atau, betapa beruntungnya seseorang bisa ‘diinginkan’ oleh seseorang seperti pelaku. Ini tentu membuat seseorang makin merasa rendah diri dan bergantung pada pelaku. Termasuk juga kalau pelaku membuat pasangannya bergantung secara ekonomi hingga sedemikian rupa.

Social Factors
Yup, social pressure adalah faktor lain yang membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan. Misalnya karena semua teman-teman punya pasangan. Bisa juga apabila seseorang mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD), sehingga terpaksa harus terus bersama dan menikah dengan pelaku. Kalau sudah begitu seseorang justru akan semakin mendapat kekerasan berlapis.

Faktanya, ada banyak banget alasan untuk kamu keluar dari hubungan yang gak sehat. 3 alasan di bawah ini adalah beberapa di antaranya:
  1. Hubungan gak sehat itu buruk untuk kesehatan psikis  kita. Kalau sudah begitu, kita akan kehilangan rasa percaya diri dan bahkan mungkin trauma untuk menjalin hubungan baru.
  2. Hubungan gak sehat juga buruk untuk kesehatan fisik. Kamu bakal kesulitan tidur, sakit kepala, merasa sedih, khawatir, dan gak bersemangat. Belum faktor lain seperti terjebak dalam gaya hidup gak sehat, penyakit infeksi menular seksual, sampai ancaman serius seperti luka-luka karena kekerasan. 
  3. Yang paling utama dan penting, You deserve to be in a relationship that is healthy and happy! Percaya itu, karena gak ada satu orang pun yang bisa merebut kebahagiaanmu, kecuali kita sendiri yang membiarkan hal tersebut terjadi.


Lalu, sebenarnya apa sih yang bisa kita lakukan jika melihat orang terdekat kita mengalami kekerasan oleh pasangannya?

The most important thing you can do is be supportive and listen to them. Jangan menghakimi apalagi berasumsi yang tidak-tidak ya. Kenyataannya, memutuskan untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat sama sekali tidak mudah. Bahkan, beberapa data mengatakan bahwa saat tergenting seseorang  mengalami kekerasan adalah ketika ia memutuskan untuk keluar dari hubungan tersebut. 

Cara yang paling sederhana adalah  dengan menjadi teman diskusi akan pilihan yang temanmu miliki bila ia memilih bertahan atau tidak dalam hubungan ini. Yakinkan mereka bahwa ia selalu punya pilihan untuk bebas dari kekerasan. Yakinkan pula bahwa ia punya support system yang akan senantiasa mendukungnya. Selain itu, kamu juga bisa mengajak temanmu untuk mengunjungi laman HelpNona untuk membuka wawasan terkait hal ini. Pada akhirnya, leaving an unhealthy relationship is hard, makanya kita membutuhkan banyak pihak untuk saling mendukung. Yuk, jadi bagian support system bagi teman-teman lain yang membutuhkan. Karena berdaya bersama, tentu lebih indah, bukan?


Referensi:
Uttech, Jennifer, "An Analysis of Violence in Teen Dating Relationships".Master of Social Work Clinical Research Papers. 2012
Love is Respect: Project of Break the Cycle and the National Domestic Violence Hotline USA 


Narasumber:
Astrid Wen M.Psi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

. Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban. Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang. Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya a

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan? Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik 2. Kekerasan Psikis 3. Kekerasan Ekonomi 4. Kekerasan Seksual Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho! Tahu Apa Itu Revenge Porn? Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis Mengakses Support Group Ini Adalah Tips Bagimu untuk Memilih Support System Langkah untuk Mendokumentasikan Kasus Kekerasan Sementara Berikut Adalah Cara Mengakses Layanan Hukum Mengakses Layanan Psikologi Mengakses Layanan Konseling Online Berikut Adalah Safety Plan yang Dapat Kamu Pelajari Saat dalam Keadaan Terancam Bila Orang Terdekat adalah Pelaku Kekerasan oleh Pasangan Terakhir, tanamkan dalam diri bahwa #CINTABUKANLUKA

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu? HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang. Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diri Menghargai k