Langsung ke konten utama

Consent


Mendiskusikan consent dengan pasangan menjadi suatu hal yang penting, karena dengan cara itulah suaramu bisa didengar. Ini tentang partisipasi dalam suatu hubungan.
- Christina Yulita ( Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan)-




Pernah dengar tentang consent? Kosa kata ini ternyata memiliki makna ‘persetujuan’ di KBBI. Dalam hubungannya dengan relasi romantis, consent dibutuhkan untuk menyelaraskan batas-batas di antara kamu dengan pasangan. Menurut hasil wawancara HelpNona dengan Komnas Perempuan, consent dalam suatu hubungan  adalah tentang komunikasi dan tentang penghargaan pada pasangan. 

Yup, consent is really about communication. Saling mengenal, saling memahami apa yang membuat satu sama lain nyaman and simply being able to openly express what you and partner want. Banyak dari kamu yang merasa ‘gak enak’ untuk cerewet ke pasangan tentang apa yang sesungguhnya ada di benakmu. Padahal, menyampaikan  hal yang  jujur  satu sama lain adalah bentuk komunikasi terbaik yang bisa membangun suatu hubungan lebih jauh lagi.

Pada kaitannya dengan  kekerasan  di ranah seksual, consent atau persetujuan merupakan kunci yang  amat penting. Misalnya nih, kasus perkosaan oleh pasangan di luar pernikahan kerap sulit diproses di kepolisian karena dianggap sekedar suka sama suka. Padahal berdasarkan unsur-unsur yang terkandung dalam definisi perkosaan Black’s Law Dictionary, makna perkosaan dapat diartikan ke dalam tiga bentuk, salah satunya bahwa perkosaan adalah suatu hubungan yang dilarang dengan seorang perempuan tanpa persetujuannya. Berdasarkan kalimat ini ada unsur yang dominan, yaitu hubungan kelamin yang dilarang dengan seorang perempuan dan tanpa persetujuan perempuan tersebut.[1] Pada akhirnya, consent adalah satu kata yang menentukan apa yang bisa diterima atau tidak diterima dari perlakuan pasangan. Kata ini mendefinisikan apakah yang kamu alami adalah kekerasan atau bukan. Nah, yuk kita sama-sama pahami lebih jauh tentang seluk beluk consent.


[1] Ekotama, Pudjiarto, Abortus Provocatus bagi Korban Perkosaan: Perspektif Viktimologi Kriminologi dan Hukum Pidana ,  Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2001



Consent:
  1. Berkomunikasi tentang batasan-batasan yang nyaman bagi kedua belah pihak.
  2. Menghargai keputusan satu sama lain.


Bukan Consent:
  1. Diam saja saat mendapat perlakukan yang tidak nyaman karena takut atau tidak enak.
  2. Berasumsi bahwa  perempuan yang ramah, wangi, berdandan, pulang larut malam sendirian, atau memakai baju seksi berarti memberikan persetujuan atas apa pun perlakuan  yang kemudian didapatnya. Misal, perempuan yang pulang malam sendiri berarti memang ingin digoda oleh preman di pinggir jalan.
  3. Apa yang terjadi dalam keadaan penuh tekanan psikis, obat-obatan, dan alkohol tidak bisa dianggap sebagai bagian dari consent.


 Tanda Pasangan yang Tidak Menghargai Konsep Consent:
  1. Memaksa melakukan apa pun yang ia inginkan
  2. Bereaksi negatif jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan
  3. Tidak peduli dengan pendapat pasangannya


Selalu Ingat Ini :
  1. NO MEANS NO.  Katakan dengan yakin. Tidak perlu merasa ragu, tidak enak apalagi takut. 
  2. Pahami non-verbal messages seperti menyilangkan tangan, diam, tatapan mata tidak fokus, menjauh adalah tanda pasangan merasa tidak nyaman. Tanyakan. Komunikasikan. Stop. Jangan paksakan.
  3. Pahami bahwa consent is not a free pass. Consent dapat selalu didiskusikan setiap saat.


Mengutarakan consent sebaiknya tidak saat tertekan. Kita perlu memahami bahwa kondisi kekerasan seksual tidak serta merta berlaku saat kita mengalami kekerasan fisik saja. Akan tetapi, bisa juga dalam kondisi saat pasangan meminta sesuatu darimu dengan syarat, sehingga kamu merasa bertanggungjawab untuk menuruti keinginannya. Sebaliknya,  kedua belah pihak juga harus memberikan ruang bagi pasangannya untuk menyampaikan suaranya.


- Christina Yulita ( Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan)-
Source Partners:
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)
Special thanks to Christina Yulita & Elwi Gito Divisi Partisipasi Masyarakat
www.komnasperempuan.go.id

Referensi:
Pudjiarto Ekotama, Abortus Provocatus bagi Korban Perkosaan: Perspektif Viktimologi Kriminologi dan Hukum Pidana ,  Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2001
http://www.consentissexy.net/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu?



HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang.
Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diriMenghargai kebutuhan aktualisasi di…

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

.
Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban.



Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang.
Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya adalah memaksa…

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan?

Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik

2. Kekerasan Psikis

3. Kekerasan Ekonomi

4. Kekerasan Seksual

Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho!

Tahu Apa Itu Revenge Porn?






Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan

Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis


<