Langsung ke konten utama

Cycle of Abuse



Abusive relationships can be very difficult to break the cycle once it begins. 
 -  aware.org -






Tahukah kamu  apa itu cycle of abuse? Lingkaran kekerasan atau yang biasa disebut cycle of abuse adalah pola kekerasan yang bekelanjutan dalam suatu hubungan relasi personal. Menurut Aware : Adolescents Working For Awesome Relationship Experiences dalam website nya www.awarenow.org , memutus rantai kekerasan dalam hubungan yang penuh kekerasan ternyata sama sekali gak mudah, loh. Berikut adalah fase-fase dalam cycle of abuse:

1. Fase Ketegangan
Fase ini dimulai dengan adanya perbedaan yang menimbulkan perdebatan. Suasana mulai memanas. Salah satu pihak mulai menggunakan kontrol dan kuasa. Sebaliknya, pihak yang lain mulai merasa tersudut dan ketakutan.

2. Fase Kekerasan
Suasana yang memanas membuat kekerasan terjadi. Mengancam, meneror, sampai kekerasan fisik terjadi pada fase ini.

3. Fase Maaf
Selanjutnya, pelaku mulai dapat meredam emosinya. Ia bisa saja meminta maaf, mencari pembenaran, menyalahkan korban, atau bahkan mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi beberapa waktu lalu tidak seburuk yang dibayangkan.

4. Fase Bulan Madu
Ketegangan yang terjadi kemarin sudah berlalu begitu saja. Semua terasa bahagia. Akan tetapi, fase ini biasanya akan segera berlalu dan kembali pada fase pertama.

Menurut wawancara HelpNona dengan Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta, ada beberapa hal yang bisa kita ingat untuk menghindari bentuk kekerasan oleh pasangan yang berulang. Wah, apa saja ya?

Be Smart!
Yuk jadi perempuan yang mengetahui hak atas tubuh dan dalam hubungan yang kita jalani bersama pasangan.

Satu Kekerasan, Tidak Lagi
 Bentuk kekerasan dalam relasi personal umumnya kerap berulang. Jangan mudah percaya kalau si dia bilang tidak akan mengulangi hal yang sama.



Referensi:
1. www.awarenow.org : Adolescents Working For Awesome Relationship Experiences (AWARE)

Narasumber:
LBH APIK JAKARTA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

. Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban. Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang. Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya a

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan? Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik 2. Kekerasan Psikis 3. Kekerasan Ekonomi 4. Kekerasan Seksual Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho! Tahu Apa Itu Revenge Porn? Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis Mengakses Support Group Ini Adalah Tips Bagimu untuk Memilih Support System Langkah untuk Mendokumentasikan Kasus Kekerasan Sementara Berikut Adalah Cara Mengakses Layanan Hukum Mengakses Layanan Psikologi Mengakses Layanan Konseling Online Berikut Adalah Safety Plan yang Dapat Kamu Pelajari Saat dalam Keadaan Terancam Bila Orang Terdekat adalah Pelaku Kekerasan oleh Pasangan Terakhir, tanamkan dalam diri bahwa #CINTABUKANLUKA

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu? HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang. Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diri Menghargai k