Langsung ke konten utama

Good Communication



Ingat, bahwa pikiran tidak bisa dibaca. Jadi beranikan diri dan latihlah untuk menyuarakan apa yang ada di hatimu. Ada orang yang mengatakan, no communication, no relationship.
-Astrid Wen M.Psi-



Porsi terbesar dari sebuah hubungan sehat adalah menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan. Soalnya, bentuk hubungan yang saling mendukung tentu butuh proses saling mendengar dan bersepakat. Kebanyakan hubungan yang memiliki spektrum tidak sehat berawal dari kegagalan melakukan komunikasi asertif. Kamu bisa belajar lebih banyak tentang komunikasi asertif  lebih lanjut di sini.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kalau kita tetap gagal dalam melakukan komunikasi secara asertif dengan pasangan? Dalam hal ini, asertif juga amat erat kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk berkata ‘tidak’ atau menunjukkan pendapatnya yang berbeda serta memiliki posisi tawar yang sama dengan pasangan. Kita sama-sama belajar berkomunikasi dengan baik dengan cara-cara berikut:


Cari Waktu dan Tempat yang Tepat
Setiap ingin membicarakan hal-hal yang krusial terkait hubungan kalian, pastikan kita mempertimbangkan waktu dan tempat yang tepat. Misalnya, jika kita melihat kecenderungan pasangan kita marah-marah setiap beradu pendapat, pastikan untuk bicara di tempat yang sekiranya aman agar ia tidak bisa menyakitimu saat beradu pendapat.

Harus Dengan Kepala Dingin
Sepakatlah untuk sama-sama menghadapi masalah ini dengan kepala dingin. Jika keduanya sudah sepakat menyelesaikan dengan tenang, harusnya diskusi apa pun akan berjalan secara efektif, bukan?

Siapkan Argumentasi yang Jelas
Kita harus paham betul dengan alasan dan latar belakang mengapa pendapatmu berbeda dengan pasangan. Dengan ini, kamu dapat mengemukakan pendapat yang solid, bukan sekedar emosi atau kekesalan semata.

Hindari Berdebat Via Pesan Singkat atau Telepon
Hal terbaik untuk menyelesaikan masalah adalah dengan berkomunikasi secara tatap muka. Ini tentunya untuk menghindari salah paham. Bisa dibayangkan kalau kamu berdebat via pesan singkat apalagi social media. Bisa saja lawan bicaramu mengintepretasikan apa yang kamu sampaikan secara berbeda. Tentu saja opsi bertemu langsung ini bisa ditinggalkan jika kamu merasa tidak aman bertemu dengan pasangan secara langsung. Pada akhirnya, pertimbangan keamanan  tetaplah yang utama, bukan?

Jujur
Katakan dengan jujur pendapat kita, namun dengan tetap tidak menyakiti perasaan pasangan. Jangan mempermanis kenyataan jika memang sesungguhnya kita tidak berpikir begitu. Ini untuk menghindari pertengkaran yang lebih berlarut-larut nantinya.

Hargai Lawan Bicara
Ketika kamu memutuskan berkomunikasi dengan baik, itu artinya kamu juga harus bersiap memusatkan perhatian pada pasangan. Begitu juga sebaliknya. Jangan sampai kita justru berdebat gara-gara merasa kesal tidak diperhatikan waktu bicara. Makanya, yuk sementara singkarkan ponsel atau games nya.

Lapang Dada
Bersiaplah dengan kemungkinan bahwa pasangan tidak mau menerima pendapat kita. Berkompromi juga merupakan salah satu komponen penting yang harus ada dalam sebuah hubungan. Namun pastikan bahwa kesepakatan terwujud dari niat baik kedua belah pihak ya, bukannya karena salah satu melakukan secara tertekan.

Stop. Think. Talk. Listen
Betul, stop, think, talk, and listen. Saat kita mengalami kebuntuan dalam berkomunikasi dengan pasangan, ada baiknya kita menarik nafas yang dalam dan meninggalkan sebentar situasi tersebut. Just calm down first. Evaluasi kembali mengapa kamu  harus sebegini kesal dan susun apa yang ingin kamu sampaikan secara baik dan objektif. Setelah siap, kamu bisa kembali menyampaikan apa yang ingin kamu  sampaikan pada pasangan. Jangan lupa untuk selalu meluangkan diri untuk mendengar pendapat dari sisi lawan bicara.

Berani Berkata Tidak dan Berani Keluar Dari Perdebatan yang Tidak Kondusif
Pada akhirnya, kamu selalu memiliki pilihan untuk berkata tidak. Agree to disagree. Apabila keputusan tersebut membuat percakapan semakin tidak kondusif, kamu pun berhak untuk keluar dari perdebatan tersebut. Apalagi jika kemudian kita merasa terancam dan tidak aman.

Referensi:
http://loveisrespect.org

Narasumber:
Astrid Wen M.Psi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu?



HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang.
Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diriMenghargai kebutuhan aktualisasi di…

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

.
Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban.



Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang.
Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya adalah memaksa…

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan?

Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik

2. Kekerasan Psikis

3. Kekerasan Ekonomi

4. Kekerasan Seksual

Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho!

Tahu Apa Itu Revenge Porn?






Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan

Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis


<