Langsung ke konten utama

Kekerasan oleh Pasangan di Ranah Online




Ternyata kekerasan oleh pasangan juga bisa terjadi dalam ranah online, lho. Digital  abuse  adalah penggunaan teknologi yang gak tepat karena dilakukan tanpa menghargai pasangan kita. Menurut hasil penelitian Marganski & Melander dalam Sleath & Walter (2016), kekerasan online dalam hubungan romantis diasosiasikan dengan kekerasan fisik, psikologis, dan seksual di kehidupan nyata.



Sebenarnya beberapa aspek kekerasan oleh pasangan via online sudah diatur dalam Undang-Undang RI No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Namun demikian, kasus-kasus cyber crime seperti ini kerap sulit diproses secara hukum apabila pelakunya menggunakan akun palsu yang kemudian sulit terlacak. Lagi-lagi, kebutuhan bukti-bukti jadi sulit dipenuhi. Ternyata pemahaman perempuan untuk selalu berhati-hati dalam berinteraksi di social media juga diperlukan, loh. Soalnya, sangat mungkin suatu kekerasan terjadi dimulai dari interaksi maya tersebut.

Seringnya pelaku melakukan kekerasan via digital dengan melakukan kekerasan pada korban secara emosional. Padahal, mau dilakukan secara langsung atau via digital, merendahkan, mengejek atau bahkan melecehkan pasangan sama sekali gak bisa dibenarkan. But the truth is, digital abuse can happen anytime. Makanya perlu banget untuk kita memahami apa sih ciri-ciri kekerasan dalam di ranah online itu? Ini informasinya dari situs Love Is Respect.org

YES!

  1. Menghargai relationship boundaries yang sudah sama-sama ditentukan.
  2. Buat batasan yang membuat kamu nyaman dan tidak nyaman di ranah digital. Misalnya, perlu gak kita nulis status jadian di facebook? Nyamankah kalau kita berteman di path dengan temannya pasangan? Bolehkah saling mengecek HP pasangan kita? Apakah pasangan marah kalau kita curhat tentang kisah cinta kalian di social media?
  3. Selalu diskusikan apa yang kamu inginkan dengan pasangan, termasuk tentang batasan dalam ranah digital.
  4. Kamu berhak punya privasi dan menikmati keseharian tanpa pasangan. Jadi gak perlu takut lupa cek HP dan lama membalas tweet pasangan.
  5. Say no to sexting! Jangan kirim sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman, seperti permintaan pasangan akan foto-foto yang terlalu vital dan pribadi. Pahami kalau kamu akan kehilangan kontrol terhadap file yang telah dikirim apabila sudah di tangan orang lain. Dia bisa saja ‘kan mem forward nya?
  6. Kamu tidak perlu berbagi password email, social media,atau e-banking pada pasanganmu.
  7. Know your privacy settings. Saat ini hampir seluruh social media sudah sangat memudahkan penggunanya untuk mengatur setting privasi. Pergunakanlah kemudahan yang telah ada tersebut.
  8. Hati-hati jika kamu memutuskan aplikasi check-ins seperti yang ada di path atau facebook. Itu memberikan ruang bagi pasangan untuk memantau kemana pun kamu  berada. Sampaikan juga pada sahabat bila kamu tidak ingin keberadaannya diketahui.


NO!

  1. Mengirimkan pesan, tweet, status, gambar, atau format lainnya di platform online yang berisi hal melecehkan, gak sopan, mengejek, merendahkan, atau hal-hal sejenis lainnya. Sekali pun saat kalian sedang bertengkar. Gak keren banget ‘kan kalau ketahuan bertengkar sama semua teman di Path? 
  2. Diam-diam selalu mengecek hp pasangan dan memonitor siapa saja yang berinteraksi dengannya.
  3. Memaksakan kehendak, termasuk kehendak di ranah digital.
  4. 24 jam mengirimi teks, menelepon atau face time. Kemudian marah jika pasangan tidak merespon dengan cepat.
  5. Mengirimkan foto, suara, gambar, atau teks yang vulgar dan tidak pasangan inginkan agar yang di ujung sana juga mengirimkan hal serupa.
  6. Mencuri atau memaksa pasangan untuk berbagi password nya pada kita
  7. Mengatur, bahkan menghapus teman satu sama lain di social media
  8. Check-in di social media emang cool. Orang-orang jadi tahu kalau kita lagi ada tempat yang lagi hip saat ini. Tapi, sadarkah bahwa ini juga bisa membuat banyak orang mengakses keberadaanmu, serta dengan siapa saja kamu saat ini?


Pada akhirnya, digital abuse cuma bisa dihindari dengan sama-sama memutuskan batasan yang paling baik bagi kalian di ranah online. Memiliki percakapan yang terbuka dan jujur adalah cara agar semua bisa berjalan dengan lancar.  Bernegosiasi dan bersepakat sepanjang perkembangan hubungan kalian mungkin akan terjadi. Tapi tenang saja, hubungan yang sehat memang akan terus begitu kok. Baik offline mau pun online. So be happy as always ya!



Referensi:
Love is Respect : Break the Cycle Project: www.loveisrespect.org
Sleath, E., Walker, K. (2016). Developing an Evience Base in Understanding and Explaining Revenge Porn. Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/304889566 


Source Partner:
Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta
Special thanks to Ibu Ratna Batara Munti & Ibu Tari
http://www.lbh-apik.or.id/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

. Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban. Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang. Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya a

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan? Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik 2. Kekerasan Psikis 3. Kekerasan Ekonomi 4. Kekerasan Seksual Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho! Tahu Apa Itu Revenge Porn? Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis Mengakses Support Group Ini Adalah Tips Bagimu untuk Memilih Support System Langkah untuk Mendokumentasikan Kasus Kekerasan Sementara Berikut Adalah Cara Mengakses Layanan Hukum Mengakses Layanan Psikologi Mengakses Layanan Konseling Online Berikut Adalah Safety Plan yang Dapat Kamu Pelajari Saat dalam Keadaan Terancam Bila Orang Terdekat adalah Pelaku Kekerasan oleh Pasangan Terakhir, tanamkan dalam diri bahwa #CINTABUKANLUKA

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu? HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang. Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diri Menghargai k