Langsung ke konten utama

Kita & Peer Pressure



“Peer pressure is pressure you put on yourself to fit in!
- Jeffrey I. Moore -




Ketika membaca kata ‘peer’, apa yang kamu pikirkan?

Frasa ‘peer pressure’ , sadar maupun tidak sadar sering kita rasakan dalam pergaulan, loh. Menurut Merriam-Webster, peer dapat diartikan sebagai orang yang tergabung dalam kelompok dengan usia yang sama. Semua yang kita kenal dan sebaya. Bisa saja mereka berada di lingkungan di mana kita beraktivitas, seperti tetangga, teman di sekolah atau kampus, sampai artis atau selebgram yang kamu kagumi.

Apakah peer atau tidak hanya ditentukan dari umur?

Tidak, walaupun identiknya demikian. Istilah ‘peer group’ justru merujuk kepada sekelompok orang yang memiliki minimal satu kesamaan, seperti usia, profesi, pendidikan, status budaya, atau status ekonomi. Semisal kamu pernah magang di perusahaan atau bergabung dalam komunitas hobi, Kamu pasti akan menjalin hubungan dalam jangka waktu yang cukup lama bersama orang-orang dari beragam latar belakang. Nah! Mereka pun peer bagi teman-teman sekalian.

Peer Pressure
Peer pressure merupakan pengaruh dari teman sebaya untuk berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara yang disepakati. Awalnya, semua setuju. Seiring waktu, kamu akan merasakan tekanan ketika proses penyesuaian diri kamu ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan.

Ada kalanya untuk fit in dalam sebuah kelompok, kamu harus ganti penampilan, ikut kegiatan yang ‘nggak gue banget’, sampai mencoba hal-hal baru namun terlarang. Alarm akan berbunyi jika perbuatan kita sudah bertentangan dengan sense of right and wrong, which is berkaitan erat dengan nilai-nilai yang kita anut.

Tapi peer pressure nggak selamanya negatif lho!

Jeffrey I. Moore pernah bilang, “Not all peer pressure is bad. If you have peers who are pushing you to go further in life and believe in your dreams, you got it made!”

Salah satu aspek yang paling mudah dipengaruhi oleh peer pressure adalah prestasi akademik. Penelitian  Brett Laursen di Amerika Serikat dan Finlandia menemukan bahwa anak sekolah dasar yang dipasangkan dengan anak yang lebih cerdas cenderung mengalami kenaikan nilai mata pelajaran.

Peer Pressure Positif Vs Negatif 
Contoh dari peer pressure yang bersifat positif dan bahkan—bisa menjadi konstruktif ialah ketika kamu berada di lingkungan kelompok yang memiliki passion terhadap kegiatan relawan sehingga kamu dapat terinspirasi dan memiliki rasa keingintahuan lebih serta mengikuti kegiatan yang positif. Awal mulanya, mungkin kita dapat beranggapan bahwa sekadar ikut-ikutan saja, hanya karena kelompok bermain kamu sebagian besar melakukan hal tersebut, maka hal itu mendorong kamu untuk melakukan hal yang sama. Tetapi kegiatan tersebut memiliki makna positif dan memberikan sesuatu yang bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran tersendiri.

Lalu, bagaimana dengan peer pressure yang bersifat negatif? Contoh kasusnya dapat kita temukan di kehidupan sehari-hari. Seperti misalkan sekumpulan remaja yang melakukan tindakan bullying di lingkungan sekolah. Salah satu di antara mereka sesungguhnya melawan pemikiran bullying itu sendiri. Tetapi di karenakan adanya peer pressure—adanya rasa cemas akan tidak terlibat dalam kelompoknya, ia secara tidak langsung terpaksa melakukan tindakan tersebut semata-mata karena ingin tetap bersama kelompok.

Lalu sebenarnya apa, sih, alasan di balik seseorang tetap mengikuti peer pressure tersebut walau di dalam nuraninya ia tahu bahwa tindakan tersebut tidak? Penyebabnya antara lain ialah kebutuhan untuk bisa sama, kebutuhan untuk bisa diterima di kelompok tersebut, juga faktor umur yang membuat kita lebih mengikuti serta mempercayai teman sebaya.

Wah, apakah benar teman sebaya dapat mempengaruhi kepribadian kita secara individu? Tentu tidak sepenuhnya, namun ketika kita berada di lingkup suatu kelompok kecil, tentu ada perasaan ingin diterima, ingin dianggap sama sehingga membuat kita menjadi sangat “menurut” dengan nilai kelompok tersebut. Selain karena pengaruh teman sebaya, sosial media juga mengambil andil dalam peer pressure tersebut. Melihat posting teman-teman yang pergi ke kafe-kafe lucu, lalu ada ketertarikan dalam diri kita yang membuat kita ingin melakukan hal sama.


Padahal sesungguhnya setiap individu mempunyai kebiasaan dan potensinya masing-masing.

Contoh peer pressure di kalangan perempuan ialah pemikiran bahwa perempuan itu harus cantik, memakai make up ke sekolah, menarik secara fisik, dan perempuan yang cantik adalah perempuan yang kurus atau langsing. Nah, lho?

Peer pressure ini juga mempengaruhi cara berpikir kita. Sebelumnya kita merasa percaya diri apa adanya dengan yang kita punya, karena peer pressure tersebut dapat mengakibatkan kepercayaan diri tersebut menurun dan melakukan diet berlebihan, misalnya. Tentu saja hal ini berbahaya, karena kesehatan kita dapat menjadi korbannya.

Lalu apa saja yang bisa kita lakukan demi menghadapi peer pressure tersebut? Tentu saja, we’re allowed to say no! Berani menolak peer pressure yang menurut kita bertentangan dengan prinsip kita sendiri. Kita punya hak untuk berkata tidak, kok. It is truly okay to say no to them. Jika kamu tidak ingin melakukan hal tersebut, bicarakanlah dengan baik dan penuh ketegasan bahwa kamu menolak untuk ikut-ikutan peer pressure tersebut. Satu hal yang perlu kamu ingat adalah: teman yang baik takkan memaksa dan toleransi terhadap segala prinsip dan keputusanmu.

Teman Sebagai Support System
Kelompok teman sebaya seharusnya menjadi salah satu support system kita, mendukung, serta menjadi tempat yang membuat kita merasa aman dan nyaman. Jika temanmu memaksa dan membuatmu tidak nyaman juga tertekan, maka kamu dapat memilih untuk memiliki lingkungan yang memiliki aura positif dan menjadi teman dalam suka maupun duka. Bertemanlah dengan orang-orang yang selalu merefleksi diri dan memberikan ruang untuk kita tumbuh.

Jika kamu bertanya mengenai peer pressure yang positif tetapi itu membuat kamu tertekan, seperti dalam kelompok belajar, sesungguhnya peer pressure positif tersebut dapat memicu diri kita untuk menjadi best version of ourselves. Bukan untuk membandingkan kita dengan orang lain, ya, tetapi untuk belajar berpikir positif mengenai diri sendiri bahwa ya, aku bisa, kok. Aku bisa mengatasi dan menghadapinya. Mari tanamkan di pikiran kita bahwa you are good enough.

Nah, itulah penjelasan tentang peer pressure yang perlu kita ketahui. Ternyata wajar banget kalau kita merasa punya dorongan untuk jadi 'sesuai' sama tuntutan banyak orang. Teman, lingkungan kantor & sekolah, sampai pasangan! Tapi, gak semuanya serta merta baik ataupun buruk, loh. Maka perlu banget untuk kita mengenal diri dan tau apa yang jadi tujuan kita sendiri. Setuju ? (Novena Adelweis & Shafira Oktav)

Narasumber:
Soraya Salim S.Psi
Pulih@ThePeak Women & Family Empowerment Center

Referensi:
http://www.merriam-webster.com/dictionary/peer
http://psychologydictionary.org/peer-group/
http://psychologydictionary.org/peer-pressure/
http://us.reachout.com/facts/factsheet/peer-pressure
http://www.apa.org/research/action/speaking-of-psychology/peer-pressure.aspx

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

. Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban. Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang. Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya a

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan? Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik 2. Kekerasan Psikis 3. Kekerasan Ekonomi 4. Kekerasan Seksual Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho! Tahu Apa Itu Revenge Porn? Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis Mengakses Support Group Ini Adalah Tips Bagimu untuk Memilih Support System Langkah untuk Mendokumentasikan Kasus Kekerasan Sementara Berikut Adalah Cara Mengakses Layanan Hukum Mengakses Layanan Psikologi Mengakses Layanan Konseling Online Berikut Adalah Safety Plan yang Dapat Kamu Pelajari Saat dalam Keadaan Terancam Bila Orang Terdekat adalah Pelaku Kekerasan oleh Pasangan Terakhir, tanamkan dalam diri bahwa #CINTABUKANLUKA

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu? HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang. Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diri Menghargai k