Langsung ke konten utama

Mengakses Layanan Kesehatan



Jika kamu mengalami kekerasan fisik oleh pasangan, hal yang dapat kamu lakukan adalah mengakses layanan kesehatan. Tidak perlu malu atau takut kepada dokter yang merawat, karena kamu berhak mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat oleh petugas medis. Sementara dokter pun akan lebih baik dalam menangani kasusmu apabila punya gambaran yang benar soal latar belakang kekerasan fisik yang kamu alami.



Menurut Komnas Perempuan, bentuk kekerasan oleh pasangan adalah berlapis. Salah satu yang paling banyak ditemukenali adalah  kekerasan fisik yaitu dipukul, didorong, digigit, dicekik, ditendang hingga mengalami kekerasan seksual. Sebagai akibat, korban kekerasan oleh pasangan dapat mengalami luka fisik, hingga kesehatan fisik yang terganggu karena pola kekerasan oleh pasangan.

Mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 01 tahun 2010, bahwasannya perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan berhak mendapat, salah satunya adalah layanan kesehatan. Terkait dengan hal ini, dr. Ratih Purwarini, salah seorang penggerak Akara Perempuan (klinik KDRT), menuturkan bahwa korban kekerasan dapat memperoleh layanan kesehatan tidak berbayar di Puskesmas, Klinik, dan RS yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Atau bisa juga datang ke Krisis Layanan Terpadu yang ada di beberapa tempat seperti RS Daerah atau P2TP2A.

Pada konteks DKI Jakarta, misalnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga menunjuk Rumah Sakit Pemerintah Pusat (seperti RSCM, RS Bhayangkara, RS Fatmawati, RS Persahabatan, RSAL Mintoharjo, RSPAD Gatot Subroto, RSAB Harapan Kita, RS Adhyaksa) dan Rumah Sakit Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (seperti  RSUD Tarakan, RSUD Pasar Rebo, RSUD Cengkareng, dll) untuk memberikan pelayanan bagi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak termasuk pelayanan Visum et Repertum.
Alternatif lain dalam mengakses layanan kesehatan bagi korban kekerasan oleh pasangan  adalah dengan mengakses layanan kesehatan pada klinik atau women crisis center yang berfokus pada isu kekerasan terhadap perempuan di sekitarmu. Bagi kamu yang berdomisili di DKI Jakarta, terdapat Klinik  Akara Perempuan yang bisa memberikan layanan dimana korban KDP bisa memperoleh layanan pemeriksaan dokter gratis. Sedangkan untuk obat dan pemeriksaan tambahan (laboratorium, roentgen, dll) masih harus ditanggung oleh klien secara pribadi.

Akara Perempuan dapat menerima pasien BPJS yang sudah terdaftar di Faskes Pertama Klinik Zeissta Sudirman Park, Jakarta Pusat. Dalam setahun terakhir, Akara Perempuan sudah menerima delapan orang kasus KDP dengan rentang usia 21 – 34 tahun. Mereka rata-rata didampingi teman atau keluarga ketika berkunjung ke Akara Perempuan. Mereka umumnya dengan jujur mengutarakan bahwa mereka adalah korban kekerasan oleh pasangan.

Oleh karenanya, jika kamu mengalami kekerasan fisik oleh pasangan, first thing first hal yang dapat kamu lakukan adalah mengakses layanan kesehatan. Tidak perlu malu atau takut kepada dokter yang merawat, karena kamu berhak mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat oleh petugas medis. Sementara dokter pun akan lebih baik dalam menangani kasusmu apabila punya gambaran yang benar soal latar belakang kekerasan fisik yang kamu alami.
Nah, bagaimana halnya jika korban kekerasan oleh pasangan tidak memiliki BPJS atau jaminan kesehatan lainnya? Dokter Ratih juga menjelaskan bahwa untuk korban kekerasan oleh pasangan pemilik KTP DKI Jakarta bisa langsung mendaftar ke loket BPJS bagian emergency dengan membawa surat keterangan kepolisian, fotokopi KTP, KK DKI Jakarta serta keterangan rawat dari RS yang merawat. Alurnya lebih kurang sebagai berikut:

Sedangkan untuk korban kekerasan oleh pasangan yang tidak memiliki KTP DKI Jakarta sedangkan kejadiannya berada di wilayah DKI Jakarta, maka pembiayaan kesehatan dapat dijamin oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dengan persayaratan:

  1. Surat pernyataan dari Kepolisian/Direktur Rumah Sakit/Pejabat yang ditunjuk/Kepala Puskesmas yang menyatakan bahwa pasien adalah korban kekerasan di wilayah DKI Jakarta;
  2. Surat keterangan rawat inap dari dokter yang merawat (bagi pasien rawat inap);
  3. Surat kontrol/rujukan dari Puskesmas (bagi pasien rawat jalan).


​Nah, itulah penjelasan singkat mengenai proses mengakses layanan kesehatan jika kamu mengalami kekerasan fisik oleh pasangan. Semoga sedikit informasi ini dapat berguna, ya .. (Resipa Elfira)

Narasumber:
dr. Ratih Purwarini
(Akara Perempuan, Klinik KDRT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu?



HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang.
Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diriMenghargai kebutuhan aktualisasi di…

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

.
Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban.



Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang.
Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya adalah memaksa…

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan?

Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik

2. Kekerasan Psikis

3. Kekerasan Ekonomi

4. Kekerasan Seksual

Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho!

Tahu Apa Itu Revenge Porn?






Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan

Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis


<