Langsung ke konten utama

Revenge Porn



Mantan pasangan (biasanya laki-laki) mengunggah materi berupa gambar atau video seksual, untuk disebarluaskan melalui internet atau media sosial atau website pornografi, tanpa persetujuan dengan tujuan balas dendam setelah hubungan romantis berakhir (Mcglynn et al, 2017).



Revenge Porn adalah fenomena baru yang muncul atas perkembangan teknologi. Jika dulu fenomena membagikan foto berkonten seksual mantan pasangan hanya dipegang oleh sekelompok individu yang tidak bertanggungjawab, maka sekarang kerugian yang ditimbulkan menjadi lebih besar karena jejak digital yang sulit dihapus dan disebarluaskan tanpa henti.

Penggunaan kata pornografi dalam istilah “Revenge Porn” adalah fokus yang kurang tepat, karena lebih menitikberatkan pada perilaku penyintas (menghasilkan gambar atau video seksual) dibandingkan perilaku pelaku kekerasan (mengancam/memaksa penyintas dalam membuat gambar atau video seksual lalu kemudian menyebarluaskannya).

Intensi pelaku dalam mengunggah konten seksual tersebut adalah untuk mempermalukan mantan pasangannya pada khalayak ramai. Hal ini sudah tergolong kekerasan emosional berbasis online. Menurut hasil penelitian Marganski & Melander dalam Sleath & Walter (2016), kekerasan online dalam hubungan romantis diasosiasikan dengan kekerasan fisik, psikologis, dan seksual di kehidupan nyata.

Pelaku melakukan pemaksaan atau tindak pengancaman agar penyintas melakukan sexting atau menghasilkan video/gambar dari aktivitas seksual. Adapun, pelaku yang melakukan secara diam-diam melalui kamera tersembunyi dengan tujuan menyebarluaskan konten aktivitas seksual tersebut. Terlihat bahwa pelaku memiliki kontrol dan kuasa atas penyintas, baik selama menjalin hubungan romantis maupun setelah mengakhirinya (Guggisberg, 2017). Tak sedikit pelaku yang berusaha memeras penyintas agar memberikan uang atau agar kembali menjalin hubungan jika tidak ingin konten seksual mereka disebarluaskan.

Belum ada satu ketentuan hukum di Indonesia yang mengatur perihal perbuatan pornografi sebagai usaha balas dendam (Christanto, 2017). Padahal karakteristik pornografi sebagai tindakan balas dendam berbeda dari sekedar pembuatan atau penyebarluasan pornografi. Penyebarluasan materi pornografi merupakan bentuk pengingkaran atau melanggar kesepakatan dari janji pembuatan materi seksual. Yang awalnya diperuntukkan kepentingan pribadi sehingga penyintas bersedia namun kemudian disebarluaskan setelah hubungan berakhir.

Penyintas seringkali merasa tidak berani dalam mencari pertolongan. Bukan hanya merasa takut, terisolasi, direndahkan dan dipermalukan, mereka pun menginternalisasi “Victim Blaming Attitudes”. Penyintas seringkali menyalahkan diri sendiri karena mereka cenderung dihakimi oleh keluarga, teman, bahkan penegak hukum. Dibanding memperoleh dukungan yang dibutuhkan, mereka justru menjadi malu karena telah menghasilkan gambar dan video seksual tersebut.

Dampak dari Revenge Porn/Image Based Abuse (Powell & Flynn, 2017) (Bate, 2017):
  1. Reputasi penyintas baik secara pribadi maupun secara professional menjadi rusak. Ada kemungkinan penyintas menjadi sulit untuk memperoleh kerja atau dikeluarkan dari pekerjaannya saat ini.
  2. Keamanan finansial yang terganggu, karena pelaku dapat melakukan pemerasan secara berkelanjutan jika tidak ingin disebarluaskan.
  3. Merasa terancam keselamatannya karena adanya potensi stalking/selalu diawasi oleh pelaku.
  4. Memilih untuk mengisolasi dirinya dari lingkungan, karena peristiwa tersebut mempengaruhi hubungan interpersonal dengan banyak orang.
  5. Distress psikologis, penyintas merasa tertekan menjadi perbincangan masyarakat atau orang-orang yang mengenalinya karena konten tersebut sulit untuk dihapus.
  6. Memiliki trust issue atau sulit untuk mempercayai orang lain khususnya lawan jenis. Hal ini berdampak pada kesulitan untuk menjalin hubungan yang baru.
  7. Mengalami gangguan psikologis yang lebih berat seperti depresi, gangguan kecemasan, atau PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).
  8. Munculnya keinginan, pikiran, atau usaha untuk bunuh diri.


Para penyintas dari kekerasan online tersebut menunjukkan coping mechanism atau strategi mengatasi peristiwa tidak menyenangkan dalam bentuk positif maupun negatif (Bate, 2017). Bentuk coping mechanism yang negatif adalah perilaku menghindar (bukan hanya dari pelaku tetapi juga dari lingkungan secara umum), denial (menyangkal dan tidak percaya bahwa pelaku telah melakukan hal tersebut), kecanduan minuman keras sebagai usaha untuk melupakan peristiwa yang tidak menyenangkan, dan terobsesi mencari alasan pelaku melakukan tindakan penyebarluasan konten seksual tersebut. Sebagian penyintas memiliki kebutuhan yang sangat kuat untuk memahami motivasi pelaku atau mengapa mereka menjadi korban dari revenge porn.

Bentuk coping mechanism yang positif adalah mencari pertolongan secara professional atau melakukan konseling, mendekati pihak-pihak yang dapat menjadi support system, dan fokus dalam usaha melanjutkan hidup. Usaha lainnya adalah mencari kekuatan melalui ibadah keagamaan, mengekspresikan pengalaman melalui tulisan, dan berusaha menertawakan kejadian yang telah terjadi. Mereka pun dapat merasa lebih baik dengan mengedukasi orang lain agar tidak terjerumus ke dalam kondisi yang sama (menjadi korban revenge porn) atau berusaha terlibat dengan kebijakan dan isu legal agar dapat memberikan keuntungan kepada para penyintas.

Yang dapat dilakukan kedepannya terkait Revenge Porn:
  1. Memperbaiki kebijakan hukum terkait isu ini, sehingga penyintas memperoleh proteksi yang lebih baik secara hukum
  2. Menyediakan informasi dan layanan pendampingan untuk penyintas, baik secara hukum maupun psikologis
  3. Pemerintah bekerja sama dengan provider media sosial atau website terkait untuk deteksi yang lebih baik dan tindakan penghapusan unggahan revenge porn
  4. Melakukan edukasi dan membudayakan sikap menghargai, meminta izin, dan menghormati kesepakatan dalam menjalin hubungan romantis di era digital (Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi, Psikolog )



Referensi:

Bate, S. (2017). Revenge Porn and Mental Health: A Qualitative Analysis of The Mental Health Effects of Revenge Porn on Female Survivors. Sage. 12 (1). 22-42

Christanto, H. (2017). Revenge Porn sebagai Kejahatan Kesusilaan Khusus: Perspektif Sobural. VEJ. 3(02). 299-326

Guggisberg, M. (2017). Revenge Porn: A Growing Contemporary Problem. Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/316075558
Mcglynn, C., Houghton, R., Rackley, E. (2017). Beyond ‘Revenge Porn’: The Continuum of Image Based Sexual Abuse. Springer. DOI: 10.1007/s10691-017-9343-2

Powell, A., Flynn, A., Henry, N. (2017). The Picture of Who is Affected by Revenge Porn is More Complex Than We First Thought. Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/323078293

Sleath, E., Walker, K. (2016). Developing an Evience Base in Understanding and Explaining Revenge Porn. Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/304889566

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu?



HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang.
Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diriMenghargai kebutuhan aktualisasi di…

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

.
Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban.



Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang.
Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya adalah memaksa…

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan?

Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik

2. Kekerasan Psikis

3. Kekerasan Ekonomi

4. Kekerasan Seksual

Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho!

Tahu Apa Itu Revenge Porn?






Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan

Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis


<