Langsung ke konten utama

Support System


Jika kamu mengalami kekerasan dari pasangan, segera cerita atau lapor ke orang yang dapat kamu percayai dan andalkan.
-Astrid Wen M.Psi-




Ketika kamu dalam kondisi tertekan, tentu dukungan dari sahabat dan keluarga sangatlah dibutuhkan. Soalnya, akan ada banyak momen di mana kamu merasa begitu kesepian dan tak tahu harus bagaimana. Menyadari kebutuhan untuk berbagi cerita akan pengalaman yang kamu alami adalah awal perubahan yang baik. Pasalnya, memiliki support system yang mendukung akan membuat kamu lebih bersemangat untuk bangkit. Hal ini sesuai dengan penelitian Banyard and Cross (2008),

The greater one’s perception of feeling supported by his or her support system, the greater the likelihood for positive outcomes.

Ya, sebaliknya lingkungan yang tidak mendukung korban juga bisa membuat suatu kekerasan dalam relasi personal lebih beresiko, loh. Dan tahukah? Profil pelaku kekerasan  ternyata berhubungan dengan rendahnya support dari orang tua pelaku sampai rendahnya sense of social responsibility dari yang bersangkutan[1]. Jadi, bisa dibilang circle yang ada di sekitar sangat berpengaruh pada bangkitnya seorang korban dari kekerasan, sekaligus pada terbentuknya perilaku kekerasan dari pelaku.

Nah, menurut Jennifer Uttech dalam jurnalnya yang berjudul "An Analysis of Violence in Teen Dating Relationships", ada beberapa aspek yang bisa menjadi suatu kesatuan support system. Penasaran siapa saja?

Keluarga 
Ya, keluarga adalah elemen pertama yang bisa menjadi sumber kekuatan. Namun demikian, bukan berarti kita harus selalu terbuka pada seluruh anggota keluarga. Nyatanya, tidak salah apabila kamu memilih untuk bercerita pada beberapa anggota keluarga yang dipercaya saja. Ask yourself, “am i ready to share?”, jika ya, siapakah yang membuatmu paling nyaman untuk berbagi cerita? Jangan lupa jelaskan pada keluarga batasan apa yang kamu butuhkan dari mereka. Misalnya, kamu hanya ingin sebatas bercerita saja pada mereka, atau justru ingin sekaligus dibantu dan diberikan arahan.

Sekolah / Kerja
Guru, konselor BK, HRD di kantor, sampai bapak satpam adalah orang-orang yang bisa kita jadikan support system. Terkadang seseorang yang mengalami kekerasan dalam relasi personalnya juga membutuhkan dukungan dari lingkaran di luar keluarga. Nah, sekolah atau tempat kerja adalah suatu lingkup yang kerap kita temui sehari-hari. Sehingga mungkin saja kamu merasa amat nyaman di sana. Jika kamu merasa butuh, sampaikanlah permasalahan yang ada. Misalnya, kamu bisa menyampaikan bahwa ada seorang laki-laki yang suka menguntimu. Pak satpam di kantor kemudian diharapkan untuk tidak membiarkan laki-laki tersebut masuk. Kamu tidak perlu curhat panjang lebar bahwa laki-laki itu adalah pasangan yang sudah menyakitimu, jika memang kamu tidak nyaman berbagi sejauh itu. Namun yang pasti, kamu sudah mengajak orang di sekitar  untuk mendukung keselamatanmu. Termasuk bapak satpam yang baik hati!



[1] Banyard, V. L., Cross, C., & Modecki, K. L.  Interpersonal violence in adolescence. Journal of Interpersonal Violence, 2006


Sahabat

“Most often their greatest sources of trust are with other friends.” [1]

Yup, sahabat akan selalu jadi orang pertama yang membuatmu tertawa. But be careful about what you share, . Sahabat bisa jadi suporter terbesarmu, tapi bukan tak mungkin suatu informasi bisa menyebar dengan sangat cepat di antara lingkungan pertemanan karenanya. Pastikan bahwa kita berbagi cerita pada sahabat yang dapat dipercaya dan minta sahabat untuk menghormati hal tersebut.

Anonymous Support
Informasi di internet, komunitas, sampai women crisis centre. Ada banyak banget sumber yang bisa kita akses untuk mendapat dukungan akan kekerasan yang dialami. Biasanya, kebutuhan ini berkaitan dengan rasa malu hingga bingung seorang korban untuk berbagi ceritanya pada orang terdekat. Makanya mereka mengakses informasi di internet dan akses layanan lain tanpa harus bercerita pada orang yang mengenalnya. And that’s okay.

 [1] Uttech, Jennifer, "An Analysis of Violence in Teen Dating Relationships".Master of Social Work Clinical Research Papers. 2012

Menutup bahasan tentang support system, psikolog Astrid Wen M.Psi juga menyampaikan pesan khusus untuk kita!

"Ceritalah ke orangtua, mentor, saudara, atau teman yang akan membantu kamu mencari jalan keluar, bukan yang malah tambah memanas-manasi atau yang membuat kamu makin terperangkap dalam lingkaran kekerasan. Untuk mencari bantuan profesional bisa langsung ke polisi, dokter, psikolog, atau lembaga bantuan hukum terdekat yang aktif membantu kamu. "

Tips Menjadi Support System yang Baik
Sebagai sahabat yang baik, pahami bahwa dukungan bisa muncul dalam berbagai macam bentuk. Sesimpel mendengarkan keluh kesah sahabat, atau justru mengantarnya ke kantor polisi. Pada akhirnya, hal yang harus dipahami adalah bahwa kebutuhan korban merupakan hal yang utama. Ini tentang mereka, bukan tentang kita. Jadi, gak oke banget kalau kita memaksakan apa yang dianggap baik untuknya. Karena pada akhirnya, mereka juga ‘kan yang akan menjalani semuanya?

A great suppport system can ...
  1. Mendengarkan keluh kesah tanpa menghakimi
  2. Menemani saat dibutuhkan
  3. Memberikan nasihat dan menjadi teman diskusi jika diminta
  4. Menjaga rahasia dengan baik


Referensi:
Uttech, Jennifer, "An Analysis of Violence in Teen Dating Relationships".Master of Social Work Clinical Research Papers. 2012
Banyard, V. L., Cross, C., & Modecki, K. L.  Interpersonal violence in adolescence. Journal of Interpersonal Violence, 2006


Narasumber:
Astrid Wen M.Psi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

. Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban. Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang. Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya a

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan? Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik 2. Kekerasan Psikis 3. Kekerasan Ekonomi 4. Kekerasan Seksual Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho! Tahu Apa Itu Revenge Porn? Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis Mengakses Support Group Ini Adalah Tips Bagimu untuk Memilih Support System Langkah untuk Mendokumentasikan Kasus Kekerasan Sementara Berikut Adalah Cara Mengakses Layanan Hukum Mengakses Layanan Psikologi Mengakses Layanan Konseling Online Berikut Adalah Safety Plan yang Dapat Kamu Pelajari Saat dalam Keadaan Terancam Bila Orang Terdekat adalah Pelaku Kekerasan oleh Pasangan Terakhir, tanamkan dalam diri bahwa #CINTABUKANLUKA

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu? HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang. Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diri Menghargai k