Langsung ke konten utama

The Beauty Myth



Ternyata untuk memiliki persepsi diri yang baik harus dimulai dengan cara yang sederhana, loh: love yourself first  dan jangan lupa bahagia akan pemberian yang Tuhan berikan. Jika psangan benar menyayangimu, tentu perkara gaya baju dan pipi chubby tidak akan jadi masalah yang signifikan.

Tahukah kamu bahwa masalah body image atau citra diri kerap muncul di kalangan perempuan muda? Beberapa faktor yang memicumu mempertanyakan hal tersebut adalah karena tekanan dari lingkungan, termasuk teman dan pasangan. Kalau sudah begitu, masalah warna kulit, bentuk tubuh, sampai gaya berpakaian jadi  serba tak ideal karena kita ingin ‘menyenangkan’ faktor di luar diri.

Tentang Citra Diri dan Kecantikan
Bicara tentang body image dan persepsi diri, biasanya akan bermuara pula pada makna kecantikan. Misalnya nih, sadar gak kalau kita, -sebagai bagian dari masyarakat-, turut melanggengkan stereotipe dari definisi kecantikan? Contohnya ketika kita  dengan mudah menilai teman yang berkulit putih , tinggi dan langsing sebagai seseorang yang ‘cantik’. Sedangkan temanmu yang tidak memenuhi kriteria tersebut dengan enteng disebut ‘biasa aja’ atau bahkan ‘jelek’.

Padahal, berbeda bukan berarti buruk, ‘kan?

Hmm..berat juga kalau begitu jadi seorang perempuan? Kita akan selalu terbelenggu untuk menyesuaikan diri dengan konsep kecantikan atau citra diri  yang diterima masyarakat. Gimana gak bikin insecure, tuh? Padahal menurut konsep hierarki kebutuhan manusia dari Abraham Maslow, seorang manusia seenggaknya harus dapat memenuhi empat aspek kebutuhan dalam hidupnya untuk merasa bahagia, yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, dicintai, dan terakhir dihargai. Nah, aspek kecantikan dan body image bisa sangat related sama dua kebutuhan dasar manusia, yaitu untuk dicintai dan dihargai.

Ayo angkat tangan, siapa yang berpikir bahwa berpenampilan menarik bisa memenuhi kebutuhanmu untuk dicintai atau dihargai orang lain? Konkritnya, apakah kamu pernah pusing gonta ganti baju karena ingin dilihat baik oleh orang lain? Atau justru diet mati-matian karena orang lain meminta begitu?


Relatif 
Standar kecantikan dan body image yang sempurna di tiap tempat dan waktu akan selalu berubah. Konstruksi realitas tentang makna kecantikan ini seringkali berhasil merubah persepsi banyak perempuan muda tentang nilai pada dirinya. Gak heran kita yang besar di era cantik adalah kurus-tinggi-putih-dada rata, akan merasa insecure jika tidak memenuhi kualifikasi tersebut. Gak heran juga kalau pasangan kita kemudian menuntut hal tersebut pada kita. But you know what? Sejarah mencatat bahwa kecantikan tidak selamanya memiliki pakem begitu. Di abad ke-15  hingga abad ke-18 , cantik adalah perempuan yang punya pinggul lebar dan dada besar. Soalnya di masa itu simbol kecantikan sangat erat dengan kemampuan reproduksi seorang perempuan. Berangkat ke abad 19, definisi cantik sedikit bergeser jadi perempuan dengan tubuh montok yang aduhai. Masih ingat ‘kan dengan poster-poster vintage pin up girl yang pinggangnya super kecil tapi pinggul dan dadanya begitu menggoda? Bergeser ke abad 20, being skinny is not a crime. Trend fashion yang diangkat media kemudian meng-highlight Twiggy, Kate Moss, hingga Elle Macpherson sebagai the ‘it’ girl. And suddenly, Marilyn Monroe is not a representative of beauty anymore.

Saat ini, berbagai rumah mode sudah mulai menetapkan standar BMI (body mass index) yang lebih rasional bagi para model yang berjalan di catwalk. Dan hal tersebut bisa jadi merupakan ciri-ciri dari awal pergeseran definisi cantik selanjutnya. Bisa jadi 10  tahun lagi perempuan kuat layaknya amazonian girl menduduki definisi cantik yang utama. Who knows?

What For? 
Menurut teori Alienasi Diri dari Satre, adanya kesadaran akan “pandangan orang lain”, dapat menimbulkan kesadaran tentang diri kita yang lain, yaitu kesadaran diri yang sedang dilihat. Itulah sebabnya waktu di rumah kamu mungkin  merasa bebas untuk berjelek-jelek ria dengan masker,  piyama dan rol rambut. Lucunya, kamu merasa true to ourself pada saat itu. Beda lagi ketika kamu mau bertemu dengan teman Dihapuslah masker dan segala obat jerawat di muka. Kamu pulas wajahmu dengan bedak dan mulai mix & match baju sesuai selera orang banyak. Buat apa? Ternyata alam bawah sadar kita sudah masuk pada kesadaran diri yang sedang dilihat. And being pretty or being good merupakan reflek untuk memuaskan orang-orang yang melihat kita nantinya. Supaya gak dibilang aneh, supaya gak dibilang jelek. Maka kita bersolek saat keluar rumah. Intinya, sebagai perempuan kita kerap meletakkan kebahagiaan akan citra diri pada pendapat orang lain, dan itu justru bikin kita gak pede dan gak bahagia.

Remember Self Respect?
Pada akhirnya, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah menghargai dan mencintai diri sendiri. Self respect. Jika memang kamu ingin memiliki tubuh yang lebih sehat dan kemudian berolahraga dan makan-makanan sehat, that’s okay. Tapi lakukanlah hal tersebut untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain. Jika kamu ingin mengganti gaya dandanan agar lebih menarik dan ingin merasa cantik, pastikan kamu melakukannya karena kebutuhan dari dalam diri. Bukan karena sekedar ikut-ikutan mode padahal sesungguhnya merasa tidak nyaman.

And if you’re not feeling pretty because your boyfirend or friends say so. just remember this silly thought:  bukan kamu yang tidak cantik, tapi  era kecantikan lah yang sedang tidak mendefinisikanmu sebagai perempuan yang cantik, -di era tersebut-. Mungkin saja kamu yang kini curvy akan dielu-elukan kalau hidup di tahun 1900 an. But, does it matter? Bukankah yang terpenting adalah kita paham bahwa kecantikan adalah konstruksi yang dibuat sendiri oleh manusia?

Maka lain kali jika kita punya pasangan yang selalu memaksa berubah, perhatikanlah tanda-tanda yang ada dalam hubungan kalian, Soalnya constantly memaksa pasangannya berubah adalah salah satu ciri dari hubungan yang gak sehat. Jangan-jangan kamu memang sudah terjebak dalam hubungan yang tak sehat selama ini? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu?



HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang.
Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diriMenghargai kebutuhan aktualisasi di…

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

.
Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban.



Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang.
Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya adalah memaksa…

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan?

Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik

2. Kekerasan Psikis

3. Kekerasan Ekonomi

4. Kekerasan Seksual

Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho!

Tahu Apa Itu Revenge Porn?






Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan

Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis


<