Langsung ke konten utama

Victim Blaming Pada Kasus Kekerasan oleh Pasangan



Kondisi victim blaming  kerap kali membuat para korban kekerasan memilih untuk menyimpan masalah mereka  dan justru semakin terjebak dalam pola lingkaran kekerasan.



Sementara dampak victim blaming bagi korban kekerasan tak bisa disepelekan.

​Tak hanya rumah tangga, bahkan dalam hubungan berpacaran pun tindakan kekerasan bisa terjadi. Catatan Tahunan Komnas Perempuan mencatat setidaknya ada 10.205 kasus kekerasan dalam relasi personal di mana kekerasan dalam pacaran juga termasuk di dalamnya. Terdapat 21% dari keseluruhan jumlah kasus yang merupakan kasus kekerasan dalam pacaran dan menempati posisi kedua persentase kekerasan dalam ranah personal setelah kekerasan dalam rumah tangga.

Hingga kini, kekerasan dalam pacaran seakan menjadi masalah yang mengemuka. Terkadang stigma masyarakat tentang gaya berpacaran juga ikut andil dalam penilaian mereka tentang kasus-kasus kekerasan dalam pacaran yang dialami oleh para korban kekerasan. Kalimat “Siapa suruh kamu pacaran sama dia, siapa suruh kamu pasrah” seakan menjadi kalimat yang mudah diucapkan setiap kali para korban kekerasan mencoba menceritakan apa yang mereka alami. Kondisi victim blaming tersebut kerap kali membuat para korban kekerasan memilih untuk menyimpan masalah mereka sendiri dan justru semakin terjebak dalam pola lingkaran kekerasan.
Dampak victim blaming tak bisa disepelekan. Berikut ini adalah berbagai dampak yang dapat dirasakan oleh korban kekerasan oleh pasangan akibat kondisi victim blaming.

Menutup diri
Akibat yang paling sering dijumpai ketika korban kekerasan mengalami victim blaming adalah pilihan mereka untuk menutup diri. Mereka akan memilih diam ketimbang menceritakan permasalahan mereka karena khawatir disalahkan.

Trauma
Seseorang yang mengalami kekerasan berpotensi untuk mengalami trauma yang mendalam. Trauma itu dapat timbul dari ketidakberdayaan kita dalam menghadapi pola kekerasan. Dampak yang terlihat adalah korban bisa saja memilih menghindar,  membatasi diri bahkan justru benci dengan dirinya sendiri.

Bertindak negatif
Kekerasan juga berpotensi membuat korban menjadi cenderung apatis atau tidak peduli dengan keadaan sekitar. Mereka dapat terus menerus mengasihani diri sendiri. Kondisi ini akan membuat seseorang merasa kosong dan tak punya arah tujuan. Lebih jauh, terdapat potensi bagi korban kekerasan untuk mencari jalan keluar dengan mengkonsumsi obat-obatan dan bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

​Meskipun begitu, bukan berarti kita hanya dapat berdiam diri atas kondisi tersebut. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk memutus perilaku victim blaming. Livia Iskandar, yang merupakan psikolog dari lembaga konsultasi Pulih @the Peak seperti dilansir dari laman magdalene.co, dalam artikel yang berjudul ‘Menjadi Teman Korban Kekerasan’, ada berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk membantu para korban kekerasan:

Tunjukan rasa peduli
Sebagai teman korban kekerasan, kita harus bisa menunjukkan sikap empati  terhadap korban.

Tidak mengomentari atau menghakimi pelaku kekerasan
Mungkin cerita korban membuat kita merasa gemas atau ikut marah atas tindakannya. Tahan diri kita agar tidak mengomentari atau menghakimi keadaan tersebut. Hal tersebut dapat menyebabkan korban menjadi defensif dan malah menutup diri.

Ajak menemui pihak professional
Jika masalah kekerasan sudah berlarut-larut. Kita bisa mendukung para korban kekerasan dengan menawarkan pihak profesional untuk membantu masalah mereka.

Demikian informasi terkait kondisi victim blaming dalam kasus kekerasan oleh pasangan. Semoga kita dapat menjadi bagian dari upaya memutus rantai perilaku victim blaming pada korban kekerasan, ya! (Birgita Nurregina)





Daftar Referensi:
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/talking-about-trauma/201307/victim-blame-difficult-attitude-change?amp
https://health.usnews.com/wellness/articles/2016-04-19/the-psychological-impact-of-victim-blaming-and-how-to-stop-it?context=amp
https://magdalene.co/news-1642-menjadi-teman-korban-kekerasan-dalam-pacaran.html



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Relasi Sehat ?

Kira-kira apakah  hubungan  yang sehat itu?



HelpNona mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang relasi sehat dengan CeweQuat, sebuah women’s mentorship & network program through community. Usut punya usut, ternyata relasi sehat diartikan sebagai hubungan yang menghormati privacy dan kebutuhan berkembangnya individu masing-masing. Lebih lanjut menurut CeweQuat, privasi itu tidak hanya sekedar area intim pasangan, tetapi juga hal-hal yang seharusnya tetap menjadi privasi seseorang, seperti password email, pin ATM, password social media, dan bahkan kebutuhan bersosialisasi masing-masing pihak, serta keinginan pasangan untuk maju dan berkembang.
Bicara lebih lanjut mengenai healthy relationship, CeweQuat juga percaya bahwa hubungan yang sehat akan membawa kedua belah pihaknya hidup progresif dan bisa bersikap suportif. Kalau sudah begitu, untuk menjalin hubungan  yang sehat, kita harus punya kualitas dalam diri yang seperti ini nih: ​ Mengenal diriMenghargai kebutuhan aktualisasi di…

Mengakses Layanan Kesehatan Reproduksi

.
Banyak hal dapat terjadi ketika terjebak dalam hubungan nggak sehat, dan salah satunya adalah kekerasan seksual. Dalam CATAHU 2018 milik Komnas Perempuan, seperti tahun 2017, kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling tinggi. Ranah personal berarti pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (contoh: ayah, kakak, paman), kekerabatan, perkawinan (suami), maupun relasi intim (pernikahan, pacaran) dengan korban.



Di ranah ini, dua persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus). Hal yang lebih memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah personal adalah pacar, sebanyak 1.528 orang. Angka ini jelas sangat besar jika dibandingkan pelaku yang menempati posisi kedua, yaitu ayah kandung, sebanyak 425 orang.
Kekerasan seksual nggak hanya berupa pemerkosaan, namun bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti disebutkan oleh Young Adult Abuse Prevention Program (YAAPP), di antaranya adalah memaksa…

Welcome to HelpNona!

Apa Itu Kekerasan oleh Pasangan?

Bentuk Kekerasan oleh Pasangan 1. Kekerasan Fisik

2. Kekerasan Psikis

3. Kekerasan Ekonomi

4. Kekerasan Seksual

Kekerasan Juga Bisa Terjadi di Ranah Online, Lho!

Tahu Apa Itu Revenge Porn?






Berikut Adalah Penyebab Seseorang Melakukan Kekerasan

Sementara Berikut Ini Adalah Dampak Kekerasan oleh Pasangan Secara Fisik dan Psikis


<